Popular

Latest Post

Kemarahan Hatta Rajasa dan Secarik Surat Importir Daging | Asal Muasal Kasus Indoguna?

Written By Unknown on 07 Junie 2013 | 6/07/2013

Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian (Menko Perekonomian) Hatta Rajasa marah besar 26 November 2012. Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini geram dengan harga daging sapi yang terus melonjak dan langka di pasaran. Seketika itu pula Hatta memanggil Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian, Syukur Iwantoro.
Inilah ikwal awal perlunya penambahan kuota impor daging sapi yang kemudian menjadi perkara korupsi. Kemarahan Hatta itu, sampai di telinga Komisaris PR Radina Niaga Mulya, Elda Devianne Adiningrat yang biasa dipanggil Bunda. Informasi itu kemudian disampaikan oleh Dirut PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman.
Atas saran Elda, Maria kemudian meminta Direktur PT Indoguna Utama Juard Effendy mengirim surat kepada Hatta. Menggunakan kop surat Asosiasi Pengusaha Importir Daging Sapi (ASPIDI), surat yang ditandatangani Juard tersebut, meminta Hatta menambah kuota impor daging sapi.
Informasi yang dihimpun tim Aktual.co menyebutkan salinan surat itu diberikan kepada kolega Hatta yakni Ketua DPP KNPI Arif Rahman yang juga dekat dengan Elda. Atas saran Arif kemudian tersebut nama politisi PAN Alimin Abdullah. Anggota Komisi VII Bidang Energi ini disebut Arif dapat membantu mengurus penambahan kuota daging sapi di Menko Ekuin.
Pukul 06.00 pagi, 15 Januari 2013, Arief Rahman menyerahkan salinan surat ASPIDI kepada Hatta. Surat ini kemudian yang menjadi alasan Hatta menambah kuota impor daging sapi tahun 2013. Elda menyebutkan rencana penambahan kuota itu akan di back up Alimin.
Kepada Aktual.co awal pekan lalu Alimin membantah hal tersebut.
"Tidak benar itu. Saya tidak penah ngomong impor daging dengan Pak Hatta. Saya di komisi berapa kan anda tahu, tidak ada kaitannya," ujarnya lagi.
Pagi ini Hatta yang dikonfirmasi wartawan Aktual.co, Arnold Sirait menegaskan, dirinya siap dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jika benar dirinya memerintahkan Alimin untuk mem back up rencana penambahan impor daging sapi tahun 2013.
"Menyuruh Alimin Abdullah apa urusan saya? Tidak betul, Alimin Abdullah itu komisi apa? Ngawur itu, isu dari mana? Ngawur itu, laporkan KPK kalau ada," ujarnya.

*http://m.aktual.co/hukum/125714kemarahan-hatta-rajasa-dan-secarik-surat-importir-daging


Taujih Nabawi Untuk Aktivis Dakwah

Written By Unknown on 04 Junie 2013 | 6/04/2013

dakwatuna.com -
 Dan Kami jadikan kalian sebagai umatan wasathan (pertengahan)” (Al-Baqarah: 143)
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (Ar Rahman: 9)
“ …dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (An-Nisa: 58)
“ … Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya.” (Al-Hujurat: 9)
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sebaik-baiknya perbuatan (‘amal) adalah yang pertengahan.” (HR. Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, 8/411/3730. As Sam’ani meriwayatkan dalam Dzail Tarikh Baghdad secara marfu’ dari Ali, tetapi dalam sanadnya terdapat periwayat yang majhul. Ad Dailami juga meriwayatkan tanpa sanad dari Ibnu Abbas secara marfu’. Lihat Imam ‘Ajluni, Kasyful Khafa’, 1/391 dan Imam As Sakhawi, Al-Maqashid Al-Hasanah, Hal. 112. Imam As Suyuthi menyandarkan ucapan ini adalah ucapan Mutharrif bin Abdillah dan Abu Qilabah, yakni sebaik-baiknya urusan (Al-Umur) adalah yang pertengahan. Lihat Ad-Durul Mantsur, 6/333)
Mukadimah
Ilustrasi (inet)
 Dusta jika ada manusia tidak butuh nasihat, sombong jika ada manusia tidak butuh bimbingan. Kita semua membutuhkannya. Sebab manusia itu memiliki potensi benar dan salah, Allah Taala berfirman:
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” (Asy-Syams: 8)
Dengan potensi kefasikan yang sudah ada saja sudah cukup bagi manusia untuk melakukan penyimpangan, ditambah lagi adanya gangguan syaitan la’natullah ‘alaih, yang selalu mengajak manusia ke jalan yang sesat menjadi pengikut mereka, Allah Taala berfirman:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Namun demikian, Allah Tabaraka wa Taala juga menyediakan berbagai mekanisme penjagaan dan perawatan fitrah seorang mukmin, salah satunya adalah budaya saling memberikan nasihat (munashahah) dan tadzkirah. Inilah budaya yang mengeluarkan manusia dari zona Al-Khusr (kerugian), Allah Taala berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3)
Inilah budaya yang bermanfaat buat orang beriman, Allah Taala berfirman:
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)
Ya, peringatan ini bermanfaat untuk hati orang-orang mukmin (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, 7/425) karena hatilah panglima aktivitas menuju perubahan dan perbaikan. Kecerdasan manusia tidaklah mencukupi jika hati belum ada kemauan untuk berubah.
Atas dasar ini, dengan memposisikan diri sebagai bagian dari objek taushiyah dan tidak menggurui, kami turunkan risalah ini yang kami beri tajuk ‘Seruan Nabawi Untuk Kader dan Qiyadah’ dalam rangka melerai pertikaian dan menyudahi kedengkian, tidak meluas wilayahnya (sebab ini hanyalah guncangan Jadebotabek dan internet, sedangkan di daerah-daerah sama sekali tidak dirasakan), demi keutuhan jamaah, kemajuan, dan kejayaan dakwah Islam. Allah Taala berfirman:
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!” (Al-Hujurat: 9)
Mendamaikan orang-orang beriman dengan mengajak mereka kembali merujuk Kitabullah dan rela terhadap apa-apa yang ditetapkan-Nya untuk dan atas mereka, dan kitabullah merupakan media paling adil untuk mendamaikan manusia (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, 22/292), maka mari kita jadikan marja’ utama kita, yakni Al-Quran dan As Sunnah sebagai pemersatu kita semua.
Taujih Nabawi Untuk Aktivis Dakwah
Maksud ‘kader’ di sini adalah siapa saja yang masih mengikuti proses tarbiyah secara intens di berbagai jenjangnya, apa pun jabatan mereka di jamaah dan hizb, atau yang tidak menjadi apa-apa. Ada pun bagi yang tidak masuk kategori ini, namun ikut bermain api di dalamnya, dan ikut memperkeruh suasana dan memprovokasi, maka kami ingatkan untuk para kader terhadap tipuan mereka:
“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, Padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada Kitab-Kitab semuanya. apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu.” (Al-Imran: 119)
Ya, jika mereka berdiskusi dengan kita, berhadapan dengan kita, mereka menyatakan bahwa “Kami adalah kader tarbiyah,” tetapi perilaku mereka bak menyiram bensin di kobaran api yang kecil. Sehingga, perselisihan kecil, nasihat biasa, dijadikannya sebagai pisau pembunuh keutuhan jamaah hingga permasalahan melebar ke mana-mana. Untuk mereka ini, para outsider yang ikut bersandiwara di dalam wacana dan dialektika jamaah, maka cukuplah bagi kalian:
“Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (Ali Imran: 119)
Sebaliknya, untuk para kader tarbiyah, diam adalah lebih baik jika belum tahu permasalahan. Tidak terpancing emosi, bersikap, dan komentar yang melebihi kapasitasnya. Tidak termakan berita bohong, atau justru menjadi penyebar berita bohong. Teruslah menuntut ilmu, berdakwah, dan beramal.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’: 36)
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.” (An-Nur: 11)
Berikut adalah Taujih Nabawi yang bertebaran di berbagai kitab hadits untuk para kader. Kami akan sampaikan beberapa saja, di antaranya:
A. Tetaplah Taat Selama Perintah Bukan Maksiat
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَعَدَلَ فَإِنَّ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرًا وَإِنْ قَالَ بِغَيْرِهِ فَإِنَّ عَلَيْهِ مِنْهُ
“Barangsiapa yang mentaatiku, maka dia telah taat kepada Allah. Barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dia telah maksiat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada pemimpin maka dia telah mentaatiku. Barangsiapa yang membangkang kepada pemimpin, maka dia telah bermaksiat kepadaku. Sesungguhnya pemimpin adalah perisai ketika rakyatnya diperangi dan yang memperkokohnya. Jika dia memerintah dengan ketaqwaan kepada Allah dan keadilan, maka baginya pahala. Jika dia mengatakan selain itu, maka dosanya adalah untuknya.” (HR. Bukhari, 10/114/2737. Muslim, 9/364/3417. An Nasa’i, 13/95/4122. Ibnu Majah, 8/393/2850. Ahmad, 15/166/7125)
Hadits ini tidak syak lagi, berbicara tentang keutamaan pemimpin yang tidak dimiliki oleh selainnya. Ketaatan kepada mereka dan pembangkangan kepada mereka seakan disetarakan dengan ketaatan dan pembangkangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam konteks jamaah dakwah, maka para qiyadah adalah pemimpin kita.
Qiyadah seperti apa yang berhak mendapatkan ketaatan dari umatnya (baca: kader)? Al-Hafzih Ibnu Hajar mengatakan setiap yang memerintahkan dengan kebenaran dan dia seorang yang adil, maka dia adalah pemimpin yang oleh Asy Syaari’ (pembuat syariat) diperintahkan agar memerintah dengan syariat-Nya. (Fathul Bari, 20/152)
Jadi, patokannya adalah syariah, sejauh mana ketaatan pemimpin tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya, dan syariat yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Sejauh mana pula kebenaran perintah mereka dalam timbangan syariah. Namun, sebagian ulama Ahlus Sunnah tetap mempertahankan bahwa pemimpin yang fasiq tetaplah harus ditaati perintahnya yang baik-baik, adapun kefasiqannya ditanggung oleh dirinya sendiri sesuai hadits di atas.
Untuk perintah yang maksiat kepada Allah Taala dan Rasul-Nya, maka semua ulama sepakat tidak ada ketaatan kepada pemimpin yang memerintah seperti itu. Banyak hadits yang menegaskan hal demikian, di antaranya:
Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya ada pada yang ma’ruf (dikenal baik).” (HR. Muslim, 9/371/3424. Abu Daud, 7/210/2256. An-Nasa’i, 13/114/4134. Ahmad, 2/192/686. Al-Baihaqi, As Sunan Al-Kubra, 8/156. Sementara Bukhari meriwayatkan tanpa lafaz Laa Tha’ata fi Ma’shiyatillah, 13/237/3995)
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
“Dengar dan taat atas seorang muslim adalah pada apa yang disukai dan dibencinya, selama tidak diperintah maksiat. Jika diperintah untuk maksiat, maka jangan didengar dan jangan ditaati.” (HR. Bukhari, 22/52/6611. Abu Daud, 7/211/2257. At Tirmidzi, 6/300/1929. Ahmad, 9/475/4439. Al-Baihaqi, As Sunan Al-Kubra, 3/127)
Dari hadits-hadits ini mereka sepakat, bahwa yang tidak ditaati adalah perintahnya saat ia memerintahkan perintah yang maksiat tersebut, baik perintah itu datangnya dari pemimpin yang adil atau zhalim terhadap rakyatnya, suami ke pada istrinya, orang tua kepada anaknya, jenderal kepada prajuritnya, dan sebagainya.
Para ulama berbeda pendapat, apakah juga wajib tetap taat kepada pemimpin yang fasiq dan zhalim, namun belum kafir. Ini dilihat dari sisi kepribadian pemimpin tersebut, bukan dilihat dari isi (content) yang diperintahkan.
Kebanyakan Ahli hadits mengatakan, tetap wajib taat kepada pemimpin yang zhalim dan fasiq, serta bersabar menghadapi mereka, selama mereka masih menegakkan shalat, dan belum melakukan tindakan yang mengeluarkannya dari Islam secara nyata (kufrun bawaah), dan selama perintahnya bukan maksiat, ada pun kefasikan dan kezhaliman pemimpin, maka itu ditanggung oleh dirinya sendiri. Ini juga pendapat Imam Hasan Al-Bashri.
Sebagian muhaqqiq dari kalangan Syafi’iyah menyatakan wajibnya mentaati pemimpin, baik perintah atau larangan, selama bukan perintah haram. (Imam Al-Alusi, Ruhul Ma’ani, 4/106)
Imam Ar-Razi mengatakan, taat kepada Allah, Rasul, dan Ahli ijma’ adalah pasti (qath’i), ada pun terhadap pemimpin dan penguasa, tidaklah taat secara pasti, bahkan kebanyakan adalah haram, karena mereka tidaklah memerintah melainkan dengan kezhaliman (li annahum Laa ya’muruuna illa bizh zhulmi). (Mafatihul Ghaib, 5/250)
Mereka berdalil dengan banyak hadits, di antaranya hadits berikut:
إلا أن تروا كفرا بَوَاحا، عندكم فيه من الله برهان
“Kecuali kalian melihatnya melakukan kekafiran yang nyata, dan kalian telah mendapatkan bukti nyata dari Allah terhadapnya.” (HR. Bukhari, 21/444/6532. Muslim, 9/374/3427)
Dalil lainnya, dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiallahu ‘anhu beliau berkata:
 يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ كَيْفَ قَالَ يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
“Ya Rasulullah, sesungguhnya mendapatkan keburukan lalu datanglah kebaikan dari Allah, dan kami saat itu masih ada. Apakah setelah kebaikan itu datang keburukan lagi?” Rasulullah menjawab: “Ya.” Hudzaifah bertanya: “Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan lagi?” Rasulullah menjawab: “Ya.” Hudzaifah bertanya: “Apakah setelah kebaikan akan datang keburukan lagi.” Rasulullah menjawab: “Ya.” Hudzaifah bertanya lagi: “Bagaimana itu?” Rasulullah menjawab: “Akan ada setelahku nanti, para pemimpin yang tidaklah menuntun dengan petunjukku, tidak berjalan dengan sunahku, dan pada mereka akan ada orang-orang yang berhati seperti hati syaitan dalam tubuh manusia.” Hudzaifah bertanya: “Apa yang aku lakukan jika aku berjumpa kondisi itu Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Dengarkan dan taati pemimpinmu, dan jika punggungmu dipukul dan diambil hartamu, maka dengarkan dan taat.” (HR. Muslim, 9/387/3435. Al-Baihaqi. As-Sunan Al-Kubra, 8/157. Ath-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Ausath, 6/459/3003. Al-Maktabah Asy-Syamilah)
Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian, dan kalian juga mendoakan mereka. Seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian.” Rasulullah ditanya: “Ya Rasulullah tidakkah kami melawannya dengan pedang?” Rasulullah menjawab: “Jangan, selama mereka masih shalat bersama kalian. Jika kalian melihat pemimpin kalian melakukan perbuatan yang kalian benci, maka bencilah perbuatannya, dan jangan angkat tangan kalian dari ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim, 9/403/3447. Ahmad, 49/11/22856. Al-Baihaqi, As Sunan Al-Kubra, 8/158. Ath-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, 12/431. Ad-Darimi, 9/19/2853. Ibnu Hibban, 19/182/4672. Al-Maktabah Asy Syamilah)
Imam An Nawawi mengatakan, tidak dibenarkan keluar dari ketaatan kepada pemimpin jika semata karena kezhaliman dan kefasikannya, selama dia tidak merubah kaidah-kaidah agama. (Syarh Shahih Muslim, 6/327)
Selain itu, Imam Bukhari menulis sebuah Bab dalam kitab Shahih-nya, Kewajiban berjihad bersama orang baik atau fajir (Al Jihad Maadhin ‘Alal Barri wal Faajir). Begitu pula Imam Abu Daud, beliau membuat bab dalam kitab Sunan-nya, Perang Bersama Pemimpin yang zhalim (Fil Ghazwi ma’a A’immati Al-Jauri). Sehingga Imam Ahmad menjadikannya alasan bahwa tidak ada perbedaan antara berjihad bersama pemimpin yang adil atau zhalim, keutamaan-keutamaan jihad tetap akan didapatkan. (Fathul Bari, 8/474). Begitu pula yang dikatakan Imam Asy Syaukani (Nailul Authar, 11/495). Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan, tidak disyaratkan berjihad itu harus dengan hakim yang adil, atau pemimpin yang baik, sebab jihad wajib dalam segala keadaan. (Fiqhus Sunnah, 2/640)
Begitu juga dalam shalat, para ulama menetapkan kebolehan berimam kepada orang zhalim dan fasiq, karena dahulu para sahabat, di antaranya Ibnu Umar pernah berimam kepada penguasa zhalim, gubernur Madinah, Hajaj bin Yusuf Ats Tsaqafi (pembunuh Abdullah bin Zubeir) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Abu Said Al-Khudri shalat di belakang khalifah Marwan. Imam An Nasa’i membuat Bab dalam kitab Sunan-nya, Shalat Bersama Imam zhalim (Ash-Shalatu Ma’a A’immatil Jauri).
Demikianlah alasan para ulama yang tetap mewajibkan taat kepada pemimpin fasiq dan zhalim, selama mereka masih muslim, dan isi perintahnya adalah bukan maksiat.
Sementara, sebagian Imam Ahlus Sunnah lainnya menyatakan tidak wajib taat kepada pemimpin yang zhalim dan fasiq, karena kefasikan dan kezhalimannya itu, bukan hanya karena faktor isi perintahnya saja yang berisi maksiat.
Dalilnya adalah:
“Dan janganlah kamu taati orang-orang yang melampaui batas.(yaitu) mereka yang membuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (Asy-Syu’ara: 151-152)
“Dan janganlah kalian taati orang yang Kami lupakan hatinya untuk mengingat Kami dan ia mengikuti hawa nafsu dan perintahnya yang sangat berlebihan.” (Al-Kahfi: 28)
Imam Nashiruddin Abul Khair Abdullah bin Umar bin Muhammad, biasa dikenal Imam Al-Baidhawi, berkata dalam tafsirnya, ketika mengomentari surat An Nisa’, ayat 59 (Athi’ullaha wa athi’ur rasul wa ulil amri minkum), bahwa yang dimaksud dengan ‘pemimpin’ di sini adalah para pemimpin kaum muslimin sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sesudahnya, seperti para khalifah, hakim, panglima perang, di mana manusia diperintah untuk mentaati mereka setelah diperintah untuk berbuat adil, wajib mentaati mereka selama mereka di atas kebenaran (maa daamuu ‘alal haqqi). (Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, 1/466)[1]
Artinya, ketika pemimpin tersebut sudah tidak di atas kebenaran (baik karena perilaku atau pemahaman pribadi), maka tidak ada kewajiban taat kepadanya. Imam Al-Baidhawi tidak membicarakan tentang isi perintahnya. Makna pemimpin pun tidak sebatas pada khalifah, tetapi juga pemimpin apa pun, termasuk dalam konteks pembahasan kita, yakni qiyadah sebuah jamaah atau organisasi.
Bahkan Imam Abul Hasan Al-Mawardi mengatakan, bahwa umat berhak meminta pencopotan kepada pemimpin jika mereka memang hilang ke’adalahannya, yakni melakukan kefasikan (baik karena syahwat atau syubhat) dan cacat tubuhnya. (Imam Al-Mawardi, Al-Ahkam As Sulthaniyah, Hal. 28). Ini juga diriwayatkan sebagai pendapat Imam Asy Syafi’i, Imam Ibnu Hazm, dan Imam Al-Ghazali.
Bapak sosiolog Islam, Ibnu Khaldun juga mengatakan tidak boleh dikatakan ‘memberontak’ bagi orang yang melakukan perlawanan terhadap pemimpin yang fasiq. Beliau memberikan contoh perlawanan Al-Husein terhadap Yazid, yang oleh Ibnu Khaldun disebut sebagai pemimpin yang fasiq. Apa yang dilakukan oleh Al-Husein adalah benar, ijtihadnya benar, dan kematiannya adalah syahid. Tidak boleh dia disebut bughat (memberontak/makar) sebab istilah memberontak hanya ada jika melawan pemimpin yang adil. (Muqaddimah, Hal. 113)
Sebaliknya, Imam Ibnu Taimiyah menganjurkan untuk sabar, tidak memberontak menghadapi ‘musibah’ pemimpin yang zhalim (Majmu’ Fatawa, 1/262)
Akhirnya …, setelah panjang lebar kami menguraikan, bagaimana menyikapi pemimpin yang melakukan penyimpangan, fasiq, dan zhalim, nampak jelas bagi kami bahwa sikap tetap taat dan sabar adalah lebih utama dan lebih membawa maslahat, dan dapat mencegah kemudharatan serta chaos berkepanjangan, walau keputusan dan perilaku sebagian qiyadah sangat ‘menggeramkan’ dan ‘menjengkelkan’ menurut sebagian kader, yang penting kader tidak diperintah untuk maksiat yang nyata, dan baik sangka lebih dikedepankan, bahwa mustahil qiyadah memerintahkan kadernya untuk maksiat kepada Allah Taala. Dan wajh istidlal (sisi pendalilan) sikap ini pun lebih argumentatif dan legitimate.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang melihat pemimpinnya ada sesuatu yang dibencinya, maka hendaknya dia bersabar, sebab barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah walau sejengkal lalu dia mati, maka matinya dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Bukhari, 21/443/6531. Muslim, 9/390/3438. Ahmad, 5/389/2357. Ath-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, 10/305/12590. Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, 16/46/7239. Ad-Darimi, 8/6/2574. Abu Ya’la, 5/402/2293)
Dari hadits ini, tentu kami tidak mengatakan ‘jahiliyah’ orang yang keluar dari jamaah tarbiyah, sebab hadits ini sedang berbicara tentang jamaatul muslimin (jamaah umat Islam keseluruhan). Tetapi ada pelajaran berharga dari hadits ini yakni perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya agar bersabar menghadapi pemimpin yang perilaku, pemahaman, atau keputusannya tidak disukai mereka. Ini alasan yang kuat kenapa kader hendaknya mengambil sikap taat dan sabar. Kami rasa sikap ini lebih bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan, karena didasari oleh dalil dan pandangan para ulama, bukan karena emosi.
Imam An Nawawi menjelaskan makna miitatan jahiliyah (mati jahiliyah) dalam hadits tersebut, dengan huruf mim dikasrahkan (jadi bacanya miitatan bukan maitatan), artinya kematian mereka disifati sebagaimana mereka dahulu tidak memiliki imam (pada masa jahiliyah). (Syarah Shahih Muslim, 6/322/3436)
Sementara Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar, menjelaskan; bahwa yang dimaksud dengan miitatan jahiliyah dengan huruf mim yang dikasrahkan adalah dia mati dalam keadaan seperti matinya ahli jahiliyah yang tersesat di mana dia tidak memiliki imam yang ditaati karena mereka tidak mengenal hal itu, dan bukanlah yang dimaksud matinya kafir tetapi mati sebagai orang yang bermaksiat. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 11/399)
Ada pun surat Al-Kahfi ayat 28: “Dan janganlah kalian taati orang yang Kami lupakan hatinya untuk mengingat Kami.” Tidak bisa dijadikan hujjah, sebab maksudnya adalah orang-orang yang hatinya lebih condong kepada syirik dibanding tauhid. (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 4/384). Atau menyibukkan diri dengan dunia dan melupakan ibadah dan Rabbnya. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 5/154). Apakah ada yang tega menyebut qiyadah telah melakukan syirik yang nyata? (misal, karena iklan Soekarno, “Aku adalah budak rakyatku,” yang membawa dampak Syirk lafzhiyah). Atau mengatakan, qiyadah telah mendahulukan dunia di banding ibadah dan Rabbnya, bukankah mereka memiliki lembaran mutaba’ah harian? Maka, bagi (kader) yang menyatakan demikian, maka dia telah ghuluw (kelewat batas) dan lebih mendahulukan zhan.
Masalahnya adalah benarkah qiyadah telah melakukan tindakan kefasiqan, kezhaliman, dan apa pun yang membuatnya layak untuk tidak ditaati menurut sebagian ulama? Ataukah itu karena perasaan, tuduhan, atau informasi yang tidak utuh, atau ada pihak ketiga yang bermain dan lebih dipercaya oleh kader, atau hanya karena perbedaan ijtihad politik saja? Jika benar qiyadah telah melakukan kefasiqan dan kezhaliman, itu pun bukan alasan yang kuat untuk membangkang sebagaimana uraian panjang di atas. Jika tidak benar, maka lebih tidak ada alasan lagi untuk membangkang. Namun, seharusnya qiyadah pun harus memberikan penjelasan, tanpa ada yang disembunyikan, tentang berbagai masalah yang digugat oleh kader. Wallahu A’lam
Ketahuilah dan fahamilah …, betapa pun keras kritikan kalian (kader) terhadap qiyadah, maka qiyadah bukanlah syaitan yang selalu berbuat salah dan selalu mengajak pada kesalahan. Sebagaimana kalian pun bukanlah malaikat yang selalu benar tanpa kesalahan.
B. Meninggalkan Perdebatan Yang Tidak Berguna
Tanpa disadari, sebagian kader terlena dalam perdebatan panjang dan sengit, dan mengabaikan akhlak Islam, namun tidak produktif dan justru mengotorkan hati.
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Ada empat hal yang barangsiapa keempat hal itu ada pada diri seseorang maka dia adalah munafik sejati, dan barangsiapa yang memiliki satu saja, maka dia memiliki perangai kemunafikan sampai dia meninggalkannya, yaitu: jika diberi amanah dia khianat, jika bicara dia berbohong, jika berjanji dia melanggar, dan jika berbantahan buruk akhlaknya.” (HR. Bukhari, 1/59/33. Muslim, 1/190/88. Abu Daud, 12/298/4068. At Tirmidzi, 9/222/2556. An Nasa’i, 15/219/4934. Ibnu Hibban, 1/497/254)
Maka, hendaknya kader dakwah meninggalkan perdebatan sengit yang memancing emosi dan melunturkan akhlak, sebab ditakutkan tumbuhnya bibit kemunafikan dalam hati kita, paling tidak perbuatan persebut menyerupai orang munafiq sebagaimana yang dijelaskan para ulama.
Imam An Nawawi memberikan penjelasan, bahwa para ulama telah ijma’ barang siapa yang sudah beriman di hati dan diucapkan dengan lisan, lalu dia melakukan hal-hal yang ada dalam hadits ini, maka mereka tidaklah dihukumi kafir dan tidak pula dihukumi munafiq yang membuatnya kekal di neraka, sebab saudara-saudara Nabi Yusuf ‘Alaihissalam telah melakukan semua perilaku ini. Demikian juga ditemukan bagi sebagian salaf dan ulama, baik sebagian atau seluruhnya. Hadits ini, segala puji bagi Allah, tidak ada kemusykilan, hanya saja para ulama berbeda pendapat dalam memaknainya. Pendapat para muhaqqiq yang mayoritas, dan menjadi pendapat pilihan yang benar adalah perangai-perangai ini adalah perangai munafiq, bagi pelakunya dia telah menyerupai orang munafiq dan berakhlak dengan akhlak mereka (kaum munafiq). Ada pun nifaq, adalah menampakkan apa-apa yang dihatinya berbeda. Pengertian ini memang ada pada orang-orang yang melakukan perangai tersebut, yang menjadikannya nifaq secara hak dalam dirinya, berupa pembicaraannya, janjinya, amanahnya, atau berbantahannya. Tetapi ini bukanlah munafiq yang zhahirnya menampakkan Islam dan hatinya kufur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah bermaksud munafiq di sini adalah munafiq yang membuat pelakunya adalah kafir dan kekal di neraka paling bawah. (Syarh Shahih Muslim, 1/150/88. Lihat pula keterangan lebih ringkas di ‘Aunul Ma’bud, 10/207)
Imam At Tirmidzi mengatakan bahwa para ulama mengartikan nifaq pada hadits ini adalah nifaq amal (nifak perbuatannya), bukan nifaq takdzib (nifaq karena sikap mendustakan dihatinya) sebagaimana pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demikianlah yang diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwa nifaq ada dua, yakni nifaq amal dan nifaq takdzib. (Sunan At Tirmidzi, 9/222). Al-Hafizh Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa nifaq di sini adalah bahwa pelakunya dihukum seperti munafiq, yakni nifaq amal. (Fathul Bari, 1/54)
Kita pun diperintahkan untuk meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa SallamI bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. At Tirmidzi,8/294/ 2239. Malik, 5/381/1402, dari Ali bin Husein bin Ali bin Ab Thalib. Ibnu Majah, 11/ 472/3966. Ahmad, 4/168/1646, dari Ali bin Abi Thalib. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Misykah Al-Mashabih, 3/49/4839)
Imam Hasan Al-Banna juga mengatakan dalam 10 wasiatnya, pada wasiat no. 4: “Tinggalkanlah perdebatan dalam masalah dan kondisi apapun, karena perdebatan tidaklah mendatangkan kebaikan.” (Risalatut Ta’alim wal Usar, Hal. 39. Darun Nashr Liththiba’ah Al-Islamiyah)
C. Tetap Menjaga Persatuan dan Soliditas
Tanpa adanya persatuan dan soliditas, maka kelemahan yang akan kita dapatkan. Sayangnya kelemahan jamaah terjadi karena ulah kita sendiri.
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)
Maka beranilah memulai untuk memahami, memaklumi, dan memaafkan sesama ikhwah sebagai awal soliditas jamaah, berada di pihak mana pun kita. Serta menghilangkan kebencian, dengki (hasad), tajassus, memutuskan silaturahim, cuek, memboikot (hajr), sesama elemen jamaah.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali Imran: 159)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Hati-hatilah dengan prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan. Janganlah saling mendengarkan keburukan, saling mencari kesalahan, saling mendengki , saling tidak peduli, saling membenci, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari, 19/8/5604)
Hadits serupa sangat banyak, hanya saja berbeda sedikit matan(redaksi)-nya . Ada yang wa laa tanaajasyu (jangan saling memfitnah) (Bukhari, 19/11/5606), atau wa laa taqaatha’uu (jangan saling memutuskan silaturahim) (Muslim, 12/415/4642), atau wa laa tanaafasuu (jangan saling bersaing/bermegah-megah) (Muslim, 12/421/4646), ada juga tambahan, “tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya leih tiga hari.” (HR. At-Tirmidzi, 7/180/1858, dari jalur Anas, hasan shahih), dan yang semisalnya.
Syahidul Islam, Imam Hasan Al-Banna Rahimahullah berkata:
أن ترتبط القلوب والأرواح برباط العقيدة ، والعقيدة أوثق الروابط وأغلاها ، والأخوة أخت الإيمان ، والتفرق أخو الكفر ، وأول القوة : قوة الوحدة ، ولا وحدة بغير حب , وأقل الحب: سلامة الصدر , وأعلاه : مرتبة الإيثار , (وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ) (الحشر:9) .
والأخ الصادق يرى إخوانه أولى بنفسه من نفسه ، لأنه إن لم يكن بهم ، فلن يكون بغيرهم ، وهم إن لم يكونوا به كانوا بغيره , (وإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية) , (والمؤمن للمؤمن كالبنيان، يشد بعضه بعضاً). (وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ) (التوبة:71) , وهكذا يجب أن نكون
 “Ukhuwah adalah keterikatan hari dan ruh dengan ikatan aqidah. Ikatan aqidah adalah ikatan yang paling kuat dan paling mulia. Ukhuwah adalah saudara keimanan, dan perpecahan adalah saudara kekufuran; kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan, tak ada persatuan tanpa rasa cinta, dan sekecil-kecilnya cinta adalah lapang dada, dan yang paling tinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudara).” Barangsiapa Yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya.(Al-Hasyr: 9)
Akh yang benar akan melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama dari dirinya sendiri, karena ia jika tidak bersama mereka, tidak akan dapat bersama yang lain. Sementara mereka jika tidak bersama dirinya, akan bisa bersama orang lain. Dan sesungguhnya Srigala hanya akan memangsa kambing yang sendirian. Seorang muslim dengan muslim lainnya laksana satu bangunan, saling menguatkan satu sama lain.
Dan orang-orang beriman baik laki-laki dan perempuan, satu sama lain tolong-menolong di antara mereka. (At-Taubah: 71). Begitulah seharus kita.” (Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna, Majmu’ah ar-Rasail, hal. 313. Al-Maktabah At-Taufiqiyah). Wallahu a’lam

[1] Apa yang dikatakan Imam Al-Baidhawi juga bantahan bagi pihak yang membatasi makna Ulil Amri hanyalah pemimpin negara (umara) dan khalifah. Mereka menolak jika surat An- Nisa: 59 ini dijadikan dalil ketaatan kepada qiyadah dakwah. Cukuplah apa yang dikatakan Imam Al-Baidhawi ini untuk mereka. Pembatasan makna Ulil Amri seperti yang mereka katakan jelas kecerobohannya. Para Salaf seperti Ibnu Abbas mengartikan Ulil Amri adalah Ahlul Fiqh wad Din (Ahli fiqih dan agama). Sedangkan Atha’, Mujahid, Hasan Al-Bashri, Abul ‘Aliyah mengatakan, maksudnya adalah ulama. (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, 2/345. Darut Thayyibah Lit Tauzi’ wan Nasyr)

Ahmad Fathanah, Antara Opini dan Fakta Persidangan

http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/05/opini-media.jpgdakwatuna.com – Jakarta. Peran media di dalam membentuk opini masyarakat pembacanya memang sangat luar biasa. Tidak sedikit fakta yang ada mampu diputar balik menjadi sebuah opini yang bisa menyesatkan banyak orang yang pada akhirnya mampu melahirkan statement ataupun tanggapan yang beragam terhadap berita yang disajikan, demikian pula sebaliknya. Seperti kasus dugaan suap impor daging sapi misalnya.
Kasus korupsi yang satu ini menjadi berita hangat setiap hari, bahkan mengalahkan kasus-kasus korupsi besar seperti Hambalang, Century atau Simulator SIM yang sudah jelas merugikan negara hingga trilyunan rupiah. Sementara hingga saat ini belum ada satu lembaga pun yang merilis berapa sebenarnya kerugian yang diderita negara akibat kasus suap impor daging sapi ini. KPK dan PPATK yang biasanya gencar mencari bukti-bukti dan mempublikasikan berita-berita tersebut nyaris tanpa suara. “Kita tunggu saja di pengadilan”, demikian kilah Jubir KPK, Johan Budi.
Memang sempat beredar di publik angka-angka terkait kasus suap impor daging sapi ini. Mulai dari 300 juta, 1 Milyar hingga 40 milyar, namun itu semua hanya sekilas info yang mencoba membentuk opini di masyarakat.
Menarik memang mencermati sepak terjang Ahmad Fathanah, sang aktor layar lebar dari pagelaran tontonan “dugaan kasus suap impor daging sapi”. AF yang tadinya bukan siapa-siapa, akhirnya berhasil diorbitkan menjadi aktor hebat dengan bumbu wanita-wanita cantik disekitarnya plus racikan hubungan AF dengan petinggi partai politik dan sepak terjangnya sebagai makelar proyek.
Dan yang tak kalah menarik adalah fakta persidangan yang ditampilkan AF pada hari jumat (17/5) yang mementahkan seluruh opini dan pagelaran yang telah dimainkan oleh sutradara “dugaan kasus suap impor daging sapi’. Jadi wajar saja kalau kemudian rumah-rumah produksi yang bernama TV swasta sampai-sampai menghentikan secara mendadak siaran langsung (live) dari kasus persidangan yang menghadirkan AF sebagai saksi.
Tetapi mereka gak kehabisan akal untuk membuat drama baru terkait kesaksian AF di persidangan. Yang kita saksikan adalah publikasi kesaksian AF yang tidak utuh, dipenggal-penggal sesuai dengan opini yang akan dibentuk. “Berani Jujur Hebat”.
Lalu menarikkah opini yang selama ini berkembang jika dibandingkan dengan Fakta persidangan AF jumat (17/5) yang lalu? Mari kita simak fakta-fakta berikut ini.
Berita:
“Itu (Rp 1 miliar) untuk safari dakwah ke Sumtera, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sumbangan untuk Papua,” kata Maria ketika bersaksi dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (15/5).
 #Kesaksian AF:
“Soal dana dari Indoguna utk PKS, itu hanya wacana saya dgn Bu Elda dan Maria saja. Nggak sampai ke PKS (dananya)”.
“Setiap saya sodorkan dana dari Indoguna, LHI selalu mengacuhkannya hingga akhirnya uang itu saya bawa dan gunakan sendiri”
“saya minta dana ke Bu Elizabeth secara pribadi. Saya dorong untuk seminar uji publik penambahan kuota impor”.
”apakah saya mau kasih ke PKS itu tergantung saya, bukan permintaan siapa pun (di PKS). Itu semua saya yang tentukan”
“setelah terima dana Rp 1 M dari Elizabeth saya memang telepon LHI, bisa ketemu ngga nanti malam? Hanya itu kata2 dari saya”
“LHI bilang lagi sibuk rapat dan kegiatan2 lainnya”.

Berita:
“Dia (Fathanah) tak cerita detail apa pekerjaannya. Dia hanya mengaku pengusaha dan kader PKS,” kata Maharani seperti yang tertulis dalam dokumen resmi yang didapat Tempo.
Kesaksian AF:
“saya mengaku pengusaha, saya adalah makelar yagn menghubungkan dengan siapa saja (bisnis jasa)”
“Motivasi saya murni memperoleh keuntungan. Dan itu saya konsumsi pribadi dan ada juga yang disumbangkan”.
“saya pernah memperoleh keuntungan sebagai makelar hingga Rp 3 milyar. Banyak pihak kok yang saya sumbang”
”sebagai Calo saya yg menginisiatifkan (create) untuk permintaan tambahan kuota impor antara PT Indoguna dengan LHI
”saya jadi calo untuk banyak proyek seperti pertambangan, dan lain-lain”
“saya tegaskan bahwa saya bukan kader. Namun memang saya bersahabat dengan LHI. Jadi hubungan saya ke PKS hanya itu”.

Berita:
Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) milik Elda yang dibacakan oleh jaksa Ronald dikatakan bahwa dalam pertemuan tanggal 30 Desember 2012 ketika bertemu dengan Ahmad Fathanah, Elda dan Maria Elizabeth Liman, Fathanah menyampaikan instruksi untuk Maria dari hasil pertemuan di Lembang.
Menurut Fathanah, dari pertemuan di Lembang yang dihadiri oleh Luthfi Hasan Ishaaq, Hilmi Aminuddin, Ahmad Fathanah, dan Suswono, ada dua arahan untuk Elizabeth Liman.
Arahan pertama adalah, Elizabeth Liman akan dibantu dalam pengurusan penambahan kuota daging sapi dan Menteri Pertanian (Mentan) akan membaca situasi dan kondisinya. Kedua, selanjutnya, Elizabeth Liman menyampaikan bahwa akan komitmen membantu mendukung dana PKS.
#Kesaksian AF:
”pengajuan Indoguna impor sebesar 500 ton daging ditolak oleh Mentan dengan alasan kuota sudah habis”
“kata Dirjen Iwan Sukur, apapun yang terjadi penambahan kuota impor sudah tidak memungkinkan lagi. Itu sesuai aturannya”
”saya tidak terlalu sering ke Kementan. Saya ke kementan untuk urusan proyek dengan posisi sebagai makelar
”pihak2 berwenang di Kementan selalu sarankan untuk ikuti prosedur lelang. Dan proyek yang kami menangkan sesuai prosedur”.
”Eldan mencoba peluang untuk izin kuota utk 2013. Itu yang kami coba cari celah. Mentan tetap nolak”

Berita:
Total komitmen fee yang dijanjikan PT Indoguna Utama kepada  mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq  sebesar Rp 40 miliar. Dari total komitmen fee itu, baru Rp 1,3 miliar yang terealisasi.
“Memberi atau menjanjikan sesuatu, yaitu memberikan uang Rp 1,3 miliar dari seluruh yang dijanjikan Rp 40 miliar kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, yakni Luthfi Hasan Ishaaq selaku anggota Komisi I DPR dan selaku Presiden PKS,” kata jaksa M Roem membacakan surat dakwaan.
#Kesaksian AF:
“soal komitmen Rp 5.000 per kg daging impor. Itu omong2an saya dgn Elda. Soal ini LHI nggak pernah percayai saya”
”Soal komitmen Rp 40 M itu, LHI selalu nanggapinya dengan bercanda saja”
”Saya nggak yakin kalau LHI itu mau bicarakan soal itu. Menurut saya LHI itu nggak yakin soal komitmen fee itu. LHI suka bercanda”
Opini telah terbentuk sedemikian rupa, Fakta pengadilan telah mematahkan opini yang ada. Entah pentas apa lagi yang akan dimainkan dibalik semua fakta yang ada. Opini sesaat atau kebenaran yang akan terungkap. (ir/sbb/kps/dtk)

LSI : 62,35 % Rakyat Mendukung Sikap PKS Menolak Kenaikan BBM


 
Jajak pendapat LSI di TV ONE Senin (3/6) jam 18.50 :

62,35 % Rakyat Mendukung Sikap PKS Menolak Kenaikan BBM

Hanya 29,15% yang tidak mendukung, dan sisanya (8,5%) tidak menjawab


-sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=583614698337279&l=90e60fa9fd

"Kesaksian" Akhwat USA tentang Sumber Harta Ustadz Luthfi

Allah-lah Sang Maha Kaya itu...."

Ina Khikmawati
Montana,USA 2013


Ingin menyampaikan rasa terimakasih dan harunya kepada Ust Luthfi Hasan Ishaq (Presiden PKS), Ust. Ahzami Samiun Jazuli dan Ust. Nurmahmudi Ismail (Walikota Depok), wabilkhusus DPP PKS Bid Kewanitaan dan urusan rumah tangga kader. Serta sahabat-sahabat saya yang selalu menghadirkan wajah saya dalam Rabithah kalian, baik yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Tidak ada ucapan yang lebih baik ,selain Jazakumullohu khairon jaza'....

Semua adalah rencana Allah SWT. Tidak ada yang paling sempurna skenarionya selain skenario Alloh.


..............Semua berawal dari sini...........


DPP PKS mengadakan pertemuan keluarga kader se-Jabodetabek. Seperti biasanya, kalau judulnya keluarga kader, tentu yang hadir kebanyakan adalah para kaum ibu-ibu.

Tapi yag paling istimewa adalah kehadiran para mantan presiden PKS dari era pertama (jaman PK), sampai terkini.  Yakni , DR. Hidayat Nurwahid (HNW), Ust. MUzammil Yusuf, Ust. Nurmahmudi Ismail, Ust. Luthfi Hasan Ishaq. Saya merasa beruntung sekali karena bisa bertemu dengan mereka, ini adalah kesempatan langka bagi saya.

Hadir sebagai peserta pertama, karena kebetulan hari itu ada acara juga di tempat lain. Sehingga saya bisa langsung datang ke acara tepat waktu.

Acara berjalan seperti biasa, ada sambutan, dan taujih.

Taujih disampaikan oleh DR. Ahzami Samiun Jazuli, tentang keluarga, peran orang tua, dan pendidikan anak.

Ah, kesempatan saya untuk bertanya kepada salah satu ustadz yang cukup terkenal di Bekasi ini.

Saya bertanya tentang bagaimana cara mendidik anak untuk para single parent, agar anak-anak tetap tumbuh seperti anak-anak yang didampingi lengkap oleh kedua orang tuanya.

Ustadz Ahzami menyampaikan jawabannya dengan diselingi gurauan yang menyejukkan.

Setelah Ustadz Ahzami selesai menjawab, tiba-tiba ust Luthfi Presiden PKS berdiri dan bertanya kepada saya...

"Ibu,...suami ibu dimana?" tanya beliau pelan, spontanitas.

"Di Amerika, Ustadz." Jawab saya spontan juga, agak malu-malu plus deg-degan karena gak menyangka akan ditanya seperti itu.

"Tadi ust. Nurmahmudi Ismail (walikota Depok-red) dan saya berbisik-bisik.. beliau mau membiayai tiket perjalanan ibu untuk bertemu suami ke Amerika, nanti teknisnya kita bicarakan," ucap beliau singkat.

"Allohu Akbar.. Allohu Akbar.." seisi ruangan serbaguna DPR RI Kalibata sontak riuh dengan kalimat thoyyibah itu.

Saya sendiri tidak menghiraukan, hanya bisa sujud syukur. Tak henti-hentinya kupanjatkan kepada Alloh.

Teringat doaku yang "tak bermutu"..

"Yaa Alloh pertemukanlah saya dengan suami saya, pertemukanlah anak-anak dengan abinya.. kami sudah kangen sekali... saya tidak tahu caranya, tapi Engkau punya cara yang indah untuk mempertemukan kami"...

Dan ternyata  inilah jawabanNya...

Saya sendiri kurang yakin, lalu saya temui beliau di depan mobil beliau, diantara kerumunan wartawan, saya katakan,

"Ustadz, jazakallahu khairan jaza'..."

"Ya, ukhti, waiyyaki, nanti biar semua diurus," jawab beliau

***

Karena berbagai urusan keluarga yang harus saya selesaikan,  juga aktifitas sebagai single parent, harus kesana kemari, antar jemput anak-anak serta cuci nyeterika (lho kok malah curhat..hehhe), saya sempat lupa dengan janji pak Presiden ini.

Hingga akhirnya saya ditelpon oleh teman saya di DPP PKS.

"Bu Ina, pak Nurmahmudi berkali-kali nelpon bu Ina, tapi gak diangkat-angkat, kalau sempat call back beliau, atau hubungi ajudannya, ini nomornya.."

Mashaa Allah, saya baru teringat beberapa hari ini, HP nya low batt and gak saya charge.

Ah, macam orang penting saja aku nih, ditelpon sama orang nomer satu di Depok, padahal kenal pun enggak. Apalagi kontribusiku di PKS bisa dibilang gak ada, nyusahin iya, kali..hiks.

Mashaa Allah, inikah ukhuwah itu?

***

Ketika gonjang ganjing perihal harta kekayaan Ustad LHI, dan petinggi-petinggi PKS itu, saya ingin teriak...

Bukan ingin membela mereka, karena mereka sudah berbuat baik kepada saya dan keluarga, tapi saya ingin membela kebenaran firman Allah :

"Orang-orang yang menfkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS al-baqarah [2]: 24).

”Dan kebaikan sekecil apapun yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.”(QS. Al-Muzammil: 20)

Kenapa harta mereka sepertinya bertambah dan bertambah, bahkan sebagian sampai terlihat berlebihan di mata orang lain?

Saya hanya bisa berguman dalam hati,

"Bagaimana Allah akan mencegah rezekiNya, kalau infaknya saja begitu ringan mereka keluarkan?"

Balasan di dunia sudah Allah tampakkan, semoga Allah sisakan juga pahala di akherat, aamiin...

Betapa saya melihat dengan kepala sendiri, bagaimana mereka tidak bergantung pada dunia ini, tapi dunia ini menjadi wasilah mereka untuk berbuat kebajikan.

Jadi buat yang masih bertanya-tanya dari mana harta mereka?

Sejatinya saya ingin mengajak, terutama  kepada diri saya pribadi,

Mari kita tengok, berapa besar infak yang kita keluarkan?

Sudah berapa harta yang paling kita cintai, kita serahkan ke jalan Allah, atau kita infakkan kepada orang yang membutuhkan?

Atau jangan-jangan kita hanya berinfak dengan recehan, sambil menyimpan harta kesayangan kita, lalu berharap kepada Allah dengan harapan semu?

Wallohu A'lam bishowab


Ina Khikmawati
Montana,USA 2013

Ulama Madura Mendukung Sikap PKS Menolak Kenaikan BBM

MADURA - Senin (3/6/13) Presiden PKS Anis Matta beserta rombongan DPP PKS dan DPW PKS Jawa Timur melakukan silaturohim dengan 500-an ulama dan tokoh di Sampang, Madura.

Pada kesempatan silaturrahim tersebut para ulama memberikan nasehat, support dan wasiat kepada partai Islam terbesar Indonesia ini.

Salah satu tokoh kyai Sampang (foto atas) mewasiatkan PKS agar sungguh-sungguh perjuangkan nasib umat Islam. Karena tinggal PKS yang kuat, begitu ujarnya.
Mahfudz Siddiq, wakil sekjen PKS yang ikut silaturohim menyampaikan silaturohim tersebut lewat akun twiternya @mahfudzsiddiq ....

  • Seorang Kyai minta kpd @anismatta agar PKS konsisten menolak rencana kenaikan harga BBM bersubsidi.
  • Silaturahim Presiden @anismatta dgn 500-an ulama dan tokoh di Sampang, Madura. 
  • Hadir dalam acara silaturahim Wabup Sampang, Fadhilah Budiono yg mewajibkan diri hadir menyambut presiden
  • Silaturahim dgn masy Sampang-Madura ditutup dgn "sholawatan". Lantunan dzikr dan sholawat iringi doa untuk ummat.

KPK Lempar Tanggung Jawab, BPK Buang Badan, Kasus Hambalang Makin Mengambang .................................!!

Written By Unknown on 01 Junie 2013 | 6/01/2013

intriknews.com Akhir-akhir ini publik mempertanyakan keseriusan KPK dalam penuntasan kasus-kasus besar seperti Hambalang. Sebab, kasus ini sudah cukup lama mengambang tak terselesaikan. Padahal  para tersangka sudah ditetapkan akan tetapi proses hukumnya tidak berlanjut ke penuntutan dan tersangka kasus inipun tak kunjung ditahan. Berbeda sekali perlakuan yang dilakukan KPK untuk kasus-kasus lain yang berskala kecil, KPK terkesan sigap dalam penanganannya dan bahkan sanking sigapnya sampai terkesan tergesa-gesa dalam penetapan kasus hukumnya.

Sebagian masyarakat mensinyalir sikap tebang pilih ini dikarenakan KPK tidak berani menuntaskan kasus-kasus besar yang melibatkan pihak penguasa. Pimpinan KPK saat ini juga dicurigai berafiliasi dengan kepentingan pihak tertentu. Sehingga beberapa pengamat hukum berstatement adanya politisasi hukum ditubuh KPK.

Menyikapi hal ini, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad sempat menolak dugaan tersebut dan mengatakan, KPK belum bisa menahan tersangka kasus korupsi Hambalang lantaran KPK belum menerima laporan audit kerugian negara dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

"Jadi kami belum bisa melakukan langkah-langkah progresif karena kasus Hambalang belum ada hasil penghitungan jumlah kerugian negaranya dari BPK," ujar Ketua KPK Abraham Samad, Jumat (24/5)

Namun, menanggapi hal ini BPK seolah buang badan dan melemparkan tanggung jawab pengusutan jumlah kerugian negara terkait kasus korupsi tersebut ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dengan alasan bahwa Kementerian PU lebih ahli untuk melakukan pengusutan kerugian negara dalam proyek tersebut.

"BPK hanya memeriksa. kewenangan menahan ada di penyidik lembaga penegak hukum, baik itu penyidik Polri, Kejaksaan, atau KPK. Jadi tidak ada kaitannya (penahanan) dengan BPK," tegas Ketua BPK Hadi Purnomo di Kantor BPK, Jakarta, Selasa (28/5)
"Sedangkan untuk menghitung proyek konsursi bangunan kami meminta pada ahlinya. Ahlinya adalah kementrian PU. Tapi sampai sekarang belum selesai, kami juga sudah komunikasikan ke PU katanya belum selesai," terangnya kembali.

Lantas setelah ini kemanakah tanggung jawab penyelesaian kasus korupsi Hambalang dilemparkan? Dimanakah letak keseriusan KPK dan lembaga hukum terkait dalam penyelesaian kasus Hambalang? Kita tunggu saja jawabannya. (As)

PKS: Kenaikkan BBM Akibat Kesalahan Pemerintah Mengelola Keuangan Negara

Jakarta (31/5) -  Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PKS Ecky Awal Mucharam  menyatakan bahwa dalam postur RAPBNP 2013 total belanja Negara mengalami peningkatan sebesar 46 Trilliun diakibatkan karena kesalahan pemerintah dalam mengelola keuangan negara.
“Kesalahannya karena pemerintah tidak mampu mengalokasikan secara berkelanjutan  kekurangan bayar subsidi BBM. Kekurangan bayar tahun 2010 sampai tahun 2012 dibebankan dalam tahun anggaran 2013. Ini merupakan bentuk ketidak adilan pengelolaan anggaran., “kata Ecky di DPR, Jum'at (31/5)
Ecky menyatakan, jumlah yang harus ditanggung akibat kurang bayar subsidi pada RAPBNP 2013 sebesar 36.9 Triliun yang terdiri untuk kurang bayar subsidi BBM sebesar 16.1 Trilliun, kurang bayar subsidi listrik 19.1 trilliun dan kurang bayar subsidi pupuk sebesar 1.7 trilliun.
"Pemerintah ditahun-tahun sebelumnya tidak match antara penerimaan tidak berbanding dengan pengeluaran Negara. Sehingga melakukan ketidakadilan terhadap pengelolaan keuangan negara dengan membebankan belanja tahun-tahun sebelumnya pada RAPBNP 2013. Ini merupakan kesalahan pemerintah dalam pengelolaan keuangan Negara,’ujar Ecky.
Karena itu, Ecky mendesak pemeritah mengambil tanggung jawab pengelolaan subsidi migas. Menurut Ecky, Pemerintah harus lebih kreatif dalam memberikan alternatif-alternatif lain untuk tidak menaikkan harga BBM. Agar pemerintah tidak melakukan pengulangan kesalahan yang disengaja.
"Salah satu alternatif adalah dengan asumsi penerimaan menurun tetapi belanja konstan sesungguhnya kenaikkan BBM dapat dihindari. Asumsi 30 trilyun yang digunakan sebagai pengurang subsidi dapat ditutup melaui SAL. Namun tetap harus diseimbangkan agar deficit tetap terjaga dibawah 3 persen. Kalaupun itu harus terkoreksi maka belanja KL harus menurun sebanyak 30 trilyun,” tutup Ecky.(kabarpks)

Kian Nyata PKS Terzholimi, Tokoh Agama Datang Beri Dukungan dan Doa

Jakarta - Setelah para pakar hukum menyatakan bahwa KPK telah mendiskriminasikan PKS dengan kasus LHI, dukungan terus berdatangan ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS). 
Rabu pagi (29/5) Prof Philip K Wijaya dari DPP Wali Umat Buddha Indonesia (Walubi), bertandang ke FPKS DPR. Beliau antara lain menyampaikan dukungan moral untuk PKS. Lalu siangnya, KH Mujib Khudhori, Ketum PP Ikhwanul Muballighin dan rekan-rekan berkunjung juga ke FPKS DPR RI. Beliau juga sampaikan simpati dan doa untuk PKS, yang menurut mereka, sedang dizhalimi.
Seperti diberitakan oleh media-media besar, berita-berita miring terus dilimpahkan ke PKS, dari mulai kasus suap yang diduga dilakukan oleh LHI eks Presiden PKS, hingga kasus pencucian uang yang sebenarnya KPK telah terburu-buru dikarenakan belum terbuktinya kasus suap yang dijeratkan ke LHI. 

(PKS Piyungan)

Ketika Badai Benci dan Cinta Bertemu...!!!!

dakwatuna.com - Siapapun Anda, apapun baju kebanggaan Anda, serumit apa pun masalah Anda, seberapa besar pun badai kebencian atau kecintaan Anda, marilah sejenak bersama saya menundukkan hati, menenangkan pikiran, kita dengarkan sapaan dari langit, dari Allah swt. Zat Yang Maha Menggenggam Hati manusia, merubah yang benci jadi cinta dan yang cinta jadi benci. Allah berfirman:
عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah: 7)
***
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Setelah membaca ayat di atas, kira-kira apa kesan yang Anda dapat? Bagaimana perasaan Anda terhadap orang yang selama ini membenci dan memusuhi Anda? Bagaimana perasaan Anda terhadap orang atau sesuatu yang selama ini Anda benci dan Anda musuhi? Bagaimana pula perasaan Anda terhadap orang yang selama ini mencintai dan begitu dalam mencurahkan perhatiannya kepada Anda? Bagaimana perasaan Anda terhadap orang atau sesuatu yang selama ini Anda cintai dan Anda sayangi?
Silahkan Anda benci, siapapun yang Anda tidak suka atau apapun yang Anda tidak suka? Silahkan Anda cintai, siapapun yang Anda suka atau apapun yang Anda suka?
Namun, sadarkah Anda bahwa benci dan cinta itu muncul karena ledakan emosional sesaat ketika perasaan seseorang tersentuh. Ia berawal karena ada energy pendorong yang mem-push kita untuk membenci dan mencintai itu datang secara beruntun. Dan secara reflex, kita akhirnya membenci atau mencintai sesuatu/seseorang. Jika ia dibiarkan terakumulasi dalam beberapa tenggang waktu dan faktanya energy itu terus-menerus mem-push kita, maka kuota kebencian  atau kecintaan akan semakin bertambah. Yang cinta jadi benci, dan yang benci jadi cinta.
Kebencian itu ibarat badai topan. Ia akan mengerahkan segala kekuatan yang dimilikinya. Lahir dan batinnya. Ia akan datangi semua gedung, bahkan gedung pencakar langit pun ia akan hampiri. Ia akan hantam gedung yang kokoh tegak berdiri itu dengan bertubi-tubi. Tanpa ampun. Seakan tanpa mengenal lelah. Tanpa jeda waktu. Tanpa mengenal usia, seakan hidup selamanya. Bahkan tanpa mengenal kehidupan dan kematian. Perhitungan dan pertanggungjawaban.
Maka, bisa jadi, sedikit demi sedikit salah satu dari atapnya copot, tiangnya mulai retak, kaca di jendelanya pecah-pecah dan akhirnya angin topan pun mendesak memasuki area dalam gedung megah itu, hingga bisa memporak-porandakan semua yang ada di dalam. Dan mungkin, seiring berjalannya waktu, gedung itu juga akan runtuh. Karena diterpa badai kebencian.
Kecintaan juga demikian. Badai cinta juga akan memobilisasi semua potensinya. Badai cinta itu juga hakikatnya terdiri dari beberapa formula pendorong yang terakumulasi hingga menjadi cinta yang utuh dan matang serta tidak tergantikan. Pertama cinta karena al-istihsan (anggapan baik). Kedua cinta karena takjub (at-ta’ajjubu). Cinta karena ingin selalu dekat dan ada di sisinya atau rindu yang menggebu (hayyamahul hubbu). Dan cinta karena kasmaran (al-‘usyqu). Pikiran seseorang pada level ini akan selalu dipenuhi oleh cinta, hati dan pikirannya. Tidak ada ruang dalam hati dan pikirannya untuk membenci, sekalipun orang lain sebenarnya sudah menampakkan indikasi-indikasi kebencian mereka.
Celakanya, manusia banyak terjebak untuk tidak melibatkan akal pikirannya, untuk berpikir secara jernih, untuk mengkalkulasikan dengan detail, kerugian apa jika ia membenci atau mencintai sesuatu atau seseorang? Keuntungan apa jika ia membenci atau mencintai dan menyayangi sesuatu atau seseorang? Lalu, apakah keuntungan dan kerugian itu akan berkepanjang hingga hari di saat kita bertemu dengan Allah (mumtaddah ila yaumil qiyaamah) ?
Atau mengajak akal pikirannya merenung sejenak, menanyakan sebenarnya energi apa yang mendorongnya untuk begitu membenci atau mencintai sesuatu atau seseorang?
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Kita hidup di era interplaniter, disaat cinta dan benci menjadi semu. Cinta dan benci sering terbeli oleh materi. Terkapitalisasi dalam bentuk jabatan publik dan kekuasaan. Tersandera dan terpenjara dalam satu komunitas tertentu. Bukan cinta dan benci dengan standar universal.
Inilah yang menjadikan saya tertarik untuk kembali membuka lembaran-lembaran buku karya DR. Khalid Jamal yang bertajuk AJARI AKU CINTA. Beliau mengajak kita untuk membayangkan jika seandainya cinta itu makhluk hidup seperti manusia, maka saat ini ia pasti akan berteriak lantang di hadapan kita, karena CINTA itu sekarang sedang mengalami penderitaan.
Beliau menggambarkan dalam bukunya tersebut, “Penderitaan Cinta itu sekarang terjadi saat melihat manusia melakukan tindakan-tindakan bodoh mengatasnamakan aku (cinta).  Mereka merampas kehormatan orang lain atas namaku. Jika semut itu berteriak, mengingatkan seluruh bangsanya atas bahaya yang akan menimpa mereka ketika lewat satuan inspeksi tentara Sulaiman dengan berkata: “Berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (An-Naml: 18).  Maka, aku (cinta) juga berteriak atas nasibku dan nasib semua orang yang mengatasnamakan cinta untuk berbuat ‘kerusakan’ di atas bumi ini.”
Jadi, sebenarnya dalam lembaran kebencian itu, ada ‘lembaran-lembaran cinta’ yang sengaja ditutupi-tutupi atau tersembunyi. Begitu juga dalam lembaran cinta, ada ‘lembaran-lembaran kebencian’ yang juga sengaja ditutup-tutupi atau tersembunyi.
Hanya saja yang jadi pertanyaan, “Siapa yang menyuruhnya menutupi lembaran cinta itu, disaat kebencian meledak? Siapa sebenarnya yang menyuruh menutupi lembaran kebencian itu, disaat cinta meledak?”
Jika yang menunjukkannya adalah Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Kasih Sayang, maka ia berada dalam jalan kebenaran. Begitu juga jika yang mengajarkan menutupi cinta dan benci itu Rasul-Nya, maka ia dalam keselamatan. Sehingga manusia akan membenci apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, dan mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Membenci orang-orang yang dibenci Allah dan Rasul-Nya dan mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Inilah barometer yang tepat sasaran dan tepat guna.
Kalau manusia sadar dengan hakikat ini, maka potensi berubahnya kebencian menjadi cinta, atau cinta menjadi kebencian, bukanlah suatu yang mustahil. Dan itulah yang diisyaratkan dalam surat Al-Mumtahanah di atas.  Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah: 7)
Masih segarkah dalam ingatan Anda, berapa banyak dari pembesar kota Mekkah yang membenci nabi agung kita Muhammad saw? Apakah dulu Umar bin Khattab tidak membenci Rasulullah? Bagaimana dengan Khalid bin Walid, Hamzah, Suroqoh? Abu Sufyan?
Bahkan, satu kota Thaif yang dulu begitu membenci Rasulullah, menolak dakwah Rasulullah, mencerna dan menghina Rasulullah, melukai Rasullah dengan lemparan batu hingga tubuh Rasulullah berlumuran darah, mengusir Rasulullah dari kota mereka, akhirnya semua penduduk Thaif masuk Islam dan bahkan keislaman mereka jauh lebih kuat dari umumnya para penduduk Mekkah yang sudah masuk Islam. Hal itu dibuktikan ketika hembusan fitnah kekufuran mewabah di setiap kota Mekkah dan Madinah sepeninggal Nabi Muhammad saw., namun di kota Thaif tidak ditemukan satupun orang yang murtad.
Subhaanallah….
Mereka yang dulu membawa bendera kebencian terhadap Rasulullah dan dakwahnya, akhirnya menjadi sosok-sosok yang mengalirkan cinta mereka dengan deras kepada Rasulullah dan dakwahnya hingga akhir hayat mereka.
Tidakkah Anda membayangkan bahwa bisa jadi orang yang Anda benci, nanti akan bertemu dengan kita di surga, ketika ia kembali pada jalan kebenaran. Begitu juga, tidakkah Anda membayangkan bahwa bisa jadi orang yang kita cintai, akan kita temukan di neraka, ketika jauh dari hidayah Allah dan Rasul-Nya?
Maka sapalah mereka yang membenci Anda dengan sapaan cinta. Tataplah mereka yang membenci Anda dengan tatapan cinta. Taburkan doa-doa hidayah atas jiwa-jiwa yang dipenuhi dengan kebencian. Lidah boleh bicara, tangan boleh bergerak, kaki boleh melangkah, otak boleh berpikir, namun yang menggenggam hati hanyalah Allah. Janganlah ada kebencian yang membabi buta, sehingga kita menganggap hanya ‘dia’ seseorang (hingga akhir hayat kita) yang harus masuk ‘jahannam’. Atau jangan ada kecintaan yang membabi buta, sehingga kita menganggap hanya ‘dia’ seseorang (hingga akhir hayat kita) yang harus masuk ‘surga’. Semua harus di bawah bimbingan Allah dan Rasul-Nya.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. PKS MUDA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger